oleh

BJ. Habibie dan Maluku Utara

Dr. Syaiful Bahri Ruray

LIPUTAN SULA– Tak bisa dibayangkan seandainya tanpa seorang BJ.Habibie, mungkinkah terlahir sepotong cerita dalam bentuk tulisan pada 27 Oktober 1998 di Maluku Utara.

Dr. Saiful Bahri Ryurai dalam pengantar tulisan ini, sepenggal cerita BJ. Habibie dan Maluku Utara, itulah yang bergulir hingga ke meja kerja B.J.Habibie dan menjadi ufuk baru di Jaziratul Muluk,

Selamat jalan sang legenda demokrasi, pelopor iptek dan imtak, dua kosakata yang beliau gulirkan seakan belum selesai juga dilakoni anak bangsa ini…karena sejarah masih bergelut, berlangsung, menggeliat mencari jalannya untuk mencapai maknawi sesungguhnya dari dua kosakata tersebut.

Selain itu, Penulis juga mengatakan, seandainya tanpa BJ. Habibie, dua kosakata itu di ibaratkan dua sisi dari satu mata uang, adalah sebuah disparitas. Ditangan orang secerdas beliau, jarak makna itu terjembatani, dan sosok dirinya sendiri menjadi teladan hidup (the living legend), hingga sang elmaut menjemputnya kemarin pukul 18.06 di RSPAD Jakarta.

“Kita Maluku Utara patut berterima kasih, wajib menengadahkan tangan, mendoakan beliau. karena seandainya tanpa beliau, ufuk baru tak kan pula hadir di depan mata kita.

Sayangnya, bangsa ini sering gagal faham dalam membedakan yang mana mutiara dan yang mana sampah. BJ.Habibie sendiri adalah berlian, yang melampaui nilai sebuah mutiara, namun pembuka pintu demokrasi itu, justru ditolak pertanggung jawaban oleh MPR atas nama rakyat, karena dicecar massa yang beringas sebagai kroni masa lalu.

Konon beliau pun sholat dan setelah itu menyatakan mengundurkan diri, tidak lagi mencalonkan dirinya menjadi presiden kembali.

Akibatnya kita tak lagi memiliki berlian 24 karat dan terjebaklah perjalanan bahtera bangsa ini dan carut marut politik sampah, walau dipoles dengan kata demokrasi seindah apapun, tak dapat menutupi borok kita yang sebenarnya.

BJ.Habibie seakan memberikan pelajaran terbaik bagi kita untuk introspeksi. Ibarat pepatah melayu, telunjuk lurus kelingking berkait. Kita pantas malu, karena sosok selevel beliau, susah hadir lagi memimpin bahtera besar ini ditengah gelombang pasang global.

Penulis Dr. Syaiful Bahri Ruray

Loading...
loading...

Komentar